Eloknya Palangkaraya dari Bukit Tangkiling
Wisatawan mendaki Bukit Tangkiling
di Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Pemandangan indah bisa
dinikmati dari tempat yang termasuk Taman Wisata Alam Bukit Tangkiling
dengan jarak 34 kilometer dari pusat Kota Palangkaraya itu. Puncak bukit
berketinggian 197 meter dari permukaan laut itu dapat dicapai setelah
pendakian sekitar 30 menit. Bukit Tangkiling adalah tujuan wisata
unggulan.
ADA rasa puas menyaksikan panorama utuh Kota
Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Napas yang memburu sirna saat usai
mendaki dan tiba di puncak Bukit Tangkiling. Minuman dingin yang segar
dan angin sepoi-sepoi menggenapkan mantapnya sensasi menikmati keindahan
pemandangan indah itu.
Bukit Tangkiling yang berjarak 34
kilometer dari pusat Kota Palangkaraya sudah ditetapkan sebagai daerah
tujuan wisata terpadu unggulan. Para pengunjung juga bisa melihat
beberapa jenis satwa, melakukan wisata religi, dan menikmati kegiatan
outbound.
Namun, di antara berbagai pilihan, tentu pesona alam
yang menjadi andalan Bukit Tangkiling. Pendakian sangat menyenangkan
dilakukan pada pagi pukul 07.00-08.00. Rimbunnya pepohonan, seperti
meranti, cempedak, pilau, dan rambutan, menyambut wisatawan yang
menyusuri pendakian.
Udara pada pertengahan Agustus 2013 itu
sangat sejuk. Gumpalan awan menutupi matahari sehingga sinarnya tak
terik. Suasana sungguh pas untuk berwisata ke Bukit Tangkiling. Setelah
15 menit berjalan kaki, separuh dari hasil pendakian sudah bisa
dinikmati.
Napas lumayan terengah, tetapi tak terasa saat melihat
pemandangan berupa hutan di sekitar Palangkaraya, Sungai Rungan, dan
Bukit Baranahu. Di lahan terbuka itu, bangku-bangku panjang dan meja
kayu tersedia untuk duduk melepas lelah. Perjalanan lalu dilanjutkan
dengan berjalan santai.
Tak perlu memaksakan diri berjalan tanpa
henti. Setelah sekitar 30 menit saja sejak mulai mendaki, puncak Bukit
Tangkiling sudah bisa dicapai. Di tempat yang termasuk Taman Wisata Alam
(TWA) Bukit Tangkiling itu, tampaklah ikon Palangkaraya, yakni Jembatan
Kahayan, berwarna jingga.
Infrastruktur sepanjang 640 meter itu
berada di atas Sungai Kahayan yang membelah Palangkaraya. Di sisi lain
terlihat Bukit Baranahu, Kalalawit, Tabala, Tunggal, Bulan, Buhis,
Lisin, dan Liau yang masih termasuk kawasan TWA Bukit Tangkiling.
Tentunya, Tangkiling merupakan bukit paling populer di kawasan tersebut.
Wisatawan
bisa naik sebongkah batu besar yang berada di puncak Bukit Tangkiling.
Di sana, seantero Palangkaraya bisa dilihat dengan leluasa.

Orangutan terlihat berkeliaran di Pulau Hampapak, di tengah Sungai
Kahayan, Palangkaraya, Kalimantan Tengah, akhir Maret 2013. Aksi satwa
dilindungi itu dapat disaksikan wisatawan yang menikmati paket wisata
susur sungai. Paket-paket lain antara lain mengunjungi betang atau rumah
khas Dayak, menjelajah Taman Nasional Sebangau, memancing, dan mengenal
budaya masyarakat lokal.
Sensasi paling istimewa apa lagi kalau bukan menikmati bekal minuman
dingin seraya menikmati panorama yang memukau. Di puncak Bukit
Tangkiling dengan tinggi 197 meter di atas permukaan laut (mdpl),
beberapa pedagang menjajakan minuman dan makanan ringan.
Saat itu
baru terasa mendaki pada pagi hari lebih mengasyikkan. Sebab, sinar
matahari kian menyengat saat hari semakin siang. Hawa kembali terasa
nyaman pada sore hari mulai pukul 16.00. Namun, wisatawan tentu diburu
waktu karena sebelum gelap mereka sudah harus turun.
Jalur menuju
puncak bisa ditempuh melalui dua rute utama. Karena itu, jalur pulang
dan pergi bisa dilalui tidak dengan trek yang sama agar bisa melihat
suasana berbeda. Jalur-jalur itu masih berdekatan dengan pelataran
parkir kendaraan bermotor sehingga wisatawan tak perlu berjalan jauh
saat mulai mendaki.
Kebun binatang
Bukit
Tangkiling ditetapkan sebagai daerah tujuan wisata terpadu unggulan
karena di sana juga terdapat tujuan wisata religi. Biara Pertapaan
Karmel dan Pura Hindu Kaharingan dibangun di kawasan itu. Pesona alam
kian lengkap dengan kebun binatang mini.
Berbagai satwa bisa
dilihat, antara lain binturung, landak, dan kera. Tak jauh dari Bukit
Tangkiling berdiri Hotel Rungan Sari yang berkelas. Banyak turis asing
menginap di hotel itu. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalteng
mengelola TWA Bukit Tangkiling dengan luas 533 hektar.
Menurut
Ketua Himpunan Pramuwisata Indonesia Provinsi Kalteng Berdodi Samuel,
wisatawan yang hendak ke Bukit Tangkiling tetapi ingin mencari informasi
lebih banyak bisa datang ke kantor resor BKSDA Kalteng atau Anak Himba
Outbound. Tempat-tempat itu masih berada di TWA Bukit Tangkiling.
Berdodi
menambahkan, di balik keindahan Tangkiling terdapat legenda menarik.
Konon, pada zaman dulu hidup seorang anak bernama Tangkiling. Suatu
hari, anak kecil itu merengek-rengek kepada ibunya karena kelaparan.
Lama kelamaan, sang ibu tak tahan dan naik pitam.
Ia memukul
kepala Tangkiling sehingga anak itu berteriak-teriak. Tak kuasa menahan
sakit, Tangkiling menangis dan berlari. Ia baru berhenti saat sampai di
pelabuhan dan bertemu saudagar kaya yang menaruh kasihan. Nasib baik
membuat saudagar itu mengajak Tangkiling berkelana dengan kapalnya.
RODERICK ADRIAN MOZES Jembatan Kahayan, Palangkaraya, Kalimantan Tengah.
Keberuntungan Tangkiling berlanjut hingga ia menjadi anak angkat
saudagar. Tangkiling pun memiliki kapal sendiri. Saat Tangkiling dewasa,
kapal besarnya berlabuh di suatu daerah. Ia berjumpa dengan perempuan
bernama Bawi Kuwu dan mereka jatuh hati.
Tangkiling pun mengajak
menikah yang diiyakan Bawi Kuwu. Suatu waktu, Tangkiling dan Bawi Kuwu
sedang berduaan. Namun, betapa terkejutnya Bawi Kuwu saat menemukan
bekas luka di kepala Tangkiling. Setelah menyimak kisah masa kecil
pemuda itu, sadarlah Bawi Kuwu bahwa Tangkiling adalah anaknya.
Dewa-dewa
menjadi murka dan mengirimkan kutukan kepada Tangkiling. Ia berubah
menjadi batu. Nasib sama menimpa bahtera Tangkiling yang kini menjadi
Batu Banama. Batu itu kini bisa dilihat di Bukit Tangkiling. Kisah
mengenai asal-usul Bukit Tangkiling mirip dengan Sangkuriang di Jawa
Barat.
Wisatawan dari Pontianak, Kalimantan Barat, Rudy Soeratno
(30), kagum akan pemandangan dari puncak Bukit Tangkiling. Namun, masih
terdapat kekurangan, yakni tidak ada bangunan untuk berteduh. Saat cuaca
panas, wisatawan hanya bisa berlindung di balik batu besar.
Eloknya Palangkaraya dari Bukit Tangkiling
Wisatawan mendaki Bukit Tangkiling
di Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Pemandangan indah bisa
dinikmati dari tempat yang termasuk Taman Wisata Alam Bukit Tangkiling
dengan jarak 34 kilometer dari pusat Kota Palangkaraya itu. Puncak bukit
berketinggian 197 meter dari permukaan laut itu dapat dicapai setelah
pendakian sekitar 30 menit. Bukit Tangkiling adalah tujuan wisata
unggulan.
ADA rasa puas menyaksikan panorama utuh Kota
Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Napas yang memburu sirna saat usai
mendaki dan tiba di puncak Bukit Tangkiling. Minuman dingin yang segar
dan angin sepoi-sepoi menggenapkan mantapnya sensasi menikmati keindahan
pemandangan indah itu.
Bukit Tangkiling yang berjarak 34
kilometer dari pusat Kota Palangkaraya sudah ditetapkan sebagai daerah
tujuan wisata terpadu unggulan. Para pengunjung juga bisa melihat
beberapa jenis satwa, melakukan wisata religi, dan menikmati kegiatan
outbound.
Namun, di antara berbagai pilihan, tentu pesona alam
yang menjadi andalan Bukit Tangkiling. Pendakian sangat menyenangkan
dilakukan pada pagi pukul 07.00-08.00. Rimbunnya pepohonan, seperti
meranti, cempedak, pilau, dan rambutan, menyambut wisatawan yang
menyusuri pendakian.
Udara pada pertengahan Agustus 2013 itu
sangat sejuk. Gumpalan awan menutupi matahari sehingga sinarnya tak
terik. Suasana sungguh pas untuk berwisata ke Bukit Tangkiling. Setelah
15 menit berjalan kaki, separuh dari hasil pendakian sudah bisa
dinikmati.
Napas lumayan terengah, tetapi tak terasa saat melihat
pemandangan berupa hutan di sekitar Palangkaraya, Sungai Rungan, dan
Bukit Baranahu. Di lahan terbuka itu, bangku-bangku panjang dan meja
kayu tersedia untuk duduk melepas lelah. Perjalanan lalu dilanjutkan
dengan berjalan santai.
Tak perlu memaksakan diri berjalan tanpa
henti. Setelah sekitar 30 menit saja sejak mulai mendaki, puncak Bukit
Tangkiling sudah bisa dicapai. Di tempat yang termasuk Taman Wisata Alam
(TWA) Bukit Tangkiling itu, tampaklah ikon Palangkaraya, yakni Jembatan
Kahayan, berwarna jingga.
Infrastruktur sepanjang 640 meter itu
berada di atas Sungai Kahayan yang membelah Palangkaraya. Di sisi lain
terlihat Bukit Baranahu, Kalalawit, Tabala, Tunggal, Bulan, Buhis,
Lisin, dan Liau yang masih termasuk kawasan TWA Bukit Tangkiling.
Tentunya, Tangkiling merupakan bukit paling populer di kawasan tersebut.
Wisatawan
bisa naik sebongkah batu besar yang berada di puncak Bukit Tangkiling.
Di sana, seantero Palangkaraya bisa dilihat dengan leluasa.

Orangutan terlihat berkeliaran di Pulau Hampapak, di tengah Sungai
Kahayan, Palangkaraya, Kalimantan Tengah, akhir Maret 2013. Aksi satwa
dilindungi itu dapat disaksikan wisatawan yang menikmati paket wisata
susur sungai. Paket-paket lain antara lain mengunjungi betang atau rumah
khas Dayak, menjelajah Taman Nasional Sebangau, memancing, dan mengenal
budaya masyarakat lokal.
Sensasi paling istimewa apa lagi kalau bukan menikmati bekal minuman
dingin seraya menikmati panorama yang memukau. Di puncak Bukit
Tangkiling dengan tinggi 197 meter di atas permukaan laut (mdpl),
beberapa pedagang menjajakan minuman dan makanan ringan.
Saat itu
baru terasa mendaki pada pagi hari lebih mengasyikkan. Sebab, sinar
matahari kian menyengat saat hari semakin siang. Hawa kembali terasa
nyaman pada sore hari mulai pukul 16.00. Namun, wisatawan tentu diburu
waktu karena sebelum gelap mereka sudah harus turun.
Jalur menuju
puncak bisa ditempuh melalui dua rute utama. Karena itu, jalur pulang
dan pergi bisa dilalui tidak dengan trek yang sama agar bisa melihat
suasana berbeda. Jalur-jalur itu masih berdekatan dengan pelataran
parkir kendaraan bermotor sehingga wisatawan tak perlu berjalan jauh
saat mulai mendaki.
Kebun binatang
Bukit
Tangkiling ditetapkan sebagai daerah tujuan wisata terpadu unggulan
karena di sana juga terdapat tujuan wisata religi. Biara Pertapaan
Karmel dan Pura Hindu Kaharingan dibangun di kawasan itu. Pesona alam
kian lengkap dengan kebun binatang mini.
Berbagai satwa bisa
dilihat, antara lain binturung, landak, dan kera. Tak jauh dari Bukit
Tangkiling berdiri Hotel Rungan Sari yang berkelas. Banyak turis asing
menginap di hotel itu. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalteng
mengelola TWA Bukit Tangkiling dengan luas 533 hektar.
Menurut
Ketua Himpunan Pramuwisata Indonesia Provinsi Kalteng Berdodi Samuel,
wisatawan yang hendak ke Bukit Tangkiling tetapi ingin mencari informasi
lebih banyak bisa datang ke kantor resor BKSDA Kalteng atau Anak Himba
Outbound. Tempat-tempat itu masih berada di TWA Bukit Tangkiling.
Berdodi
menambahkan, di balik keindahan Tangkiling terdapat legenda menarik.
Konon, pada zaman dulu hidup seorang anak bernama Tangkiling. Suatu
hari, anak kecil itu merengek-rengek kepada ibunya karena kelaparan.
Lama kelamaan, sang ibu tak tahan dan naik pitam.
Ia memukul
kepala Tangkiling sehingga anak itu berteriak-teriak. Tak kuasa menahan
sakit, Tangkiling menangis dan berlari. Ia baru berhenti saat sampai di
pelabuhan dan bertemu saudagar kaya yang menaruh kasihan. Nasib baik
membuat saudagar itu mengajak Tangkiling berkelana dengan kapalnya.
RODERICK ADRIAN MOZES Jembatan Kahayan, Palangkaraya, Kalimantan Tengah.
Keberuntungan Tangkiling berlanjut hingga ia menjadi anak angkat
saudagar. Tangkiling pun memiliki kapal sendiri. Saat Tangkiling dewasa,
kapal besarnya berlabuh di suatu daerah. Ia berjumpa dengan perempuan
bernama Bawi Kuwu dan mereka jatuh hati.
Tangkiling pun mengajak
menikah yang diiyakan Bawi Kuwu. Suatu waktu, Tangkiling dan Bawi Kuwu
sedang berduaan. Namun, betapa terkejutnya Bawi Kuwu saat menemukan
bekas luka di kepala Tangkiling. Setelah menyimak kisah masa kecil
pemuda itu, sadarlah Bawi Kuwu bahwa Tangkiling adalah anaknya.
Dewa-dewa
menjadi murka dan mengirimkan kutukan kepada Tangkiling. Ia berubah
menjadi batu. Nasib sama menimpa bahtera Tangkiling yang kini menjadi
Batu Banama. Batu itu kini bisa dilihat di Bukit Tangkiling. Kisah
mengenai asal-usul Bukit Tangkiling mirip dengan Sangkuriang di Jawa
Barat.
Wisatawan dari Pontianak, Kalimantan Barat, Rudy Soeratno
(30), kagum akan pemandangan dari puncak Bukit Tangkiling. Namun, masih
terdapat kekurangan, yakni tidak ada bangunan untuk berteduh. Saat cuaca
panas, wisatawan hanya bisa berlindung di balik batu besar.